Semangat Penjual Koran: Catatan Ibu Diana Kasih

diana

Diana Kasih

Hampir sebagian penduduk Bekasi bekerja di Jakarta. Karena jaraknya cukup jauh umumnya mereka berangkat lebih awal agar tidak terjebak macet. Demikian juga saya.

Agar lebih mudah mengatur waktu dan menghemat ongkos saya lebih sering berboncengan motor bersama suami.

Lagi pula lokasi pekerjaan kami searah. Sebagai seorang guru tentunya saya harus lebih awal hadir di sekolah agar dapat menyiapkan kelengkapan mengajar yang saya perlukan dan masuk tepat waktu yaitu pukul setengah tujuh.

Lokasi tempat saya mengajar berada di lingkungan perumahan penduduk dan agak ke dalam. Artinya lokasi tersebut bukan berada di pinggir jalan raya seperti umumnya sekolah-sekolah negeri yang terletak di perkotaan. Meskipun lokasinya kurang menguntungkan, tetapi lahannya sangat luas untuk ukuran Jakarta. Halamannya pun ditanami pohon yang dapat menghasilkan seperti ubi rambat, ubi kayu, jambu air, mangga, belimbing, pisang, yang semuanya tertata rapi dan terawat dengan baik. Lingkungan yang sangat menyenangkan.

Ada dua jalur yang dapat ditempuh untuk menggapai lokasi tersebut. Kami lebih senang menempuh jalur yang lebih banyak melewati perumahan penduduk karena tidak terlalu ramai ketimbang jalur yang melewati pasar.

Perjalanan itulah yang mempertemukan kami dengan seorang penjual koran yang tubuhnya tidak memiliki kesempurnaan. Kedua kakinya kecil sehingga ia harus merangkak ketika menjajakan korannya.Saat merangkak ia pergunakan sandal jepit untuk mengalas telapak tangannya.

Untuk mengalas lututnya ia pergunakan karet ban yang diberi tali sebagai pengikat. Korannya ia masukkan ke dalam kantung plastik dan digantungkan di lehernya.

Pekerjaan itu tetap ia lakukan meskipun hari hujan. Tubuhnya diselubungi plastik ia merangkak, berteriak, menawarkan korannya kepada pelanggan. Ia susuri jalan-jalan, gang-gang, lorong-lorong dan tanah becek di tengah guyuran hujan. Dengan semangat penuh pengharapan serta tidak menyerah dengan keadaan yang ditakdirkan Allah kepadanya.

Pertemuan ini telah berlangsung lama yang membuahkan pengalaman batin yang sangat dalam. Tidak cukup itu. Penghargaan diam-diam atas semangat berusaha yang ia miliki luar biasa itu. Berbeda betul dengan orang-orang yang saya temui di bus-bus, di terminal-terminl, di stasiun-stasiun, atau di tempat-tempat lain mereka lebih senang menengadahkan tangannya meminta-minta, mengharapkan belas kasih orang banyak meskipun memliki tubuh yang sehat dan kuat.

Belakangan saya tidak menjumpai dia menjajakan koran seperti hari-hari sebelumnya. Rupanya ia telah memiliki gerobak beroda tiga yang dapat dikendalikan dengan tangannya. Gerobak itu sangat sederhana terbuat dari papan biasa yang diberi steer mobil dan tiga buah ban sepeda untuk menggerakkan roda gerobak tersebut dikendalikan dengan tangannya. Sedangkan mengendalikan gerobak untuk belok kanan dan belok kiri melalui steer mobil yang terpasang di bagian depan gerobak.

Koran-koran yang akan dijual disusun di bagian belakang dan jumlahnya lebih banyak. Jika hari sudah tinggi ia “mangkal” di pasar menjual sisa koran yang belum habis terjual di sela-sela kesibukannya ia tidak pernah alpa menunaikan ibadah shalat wajib ataupun shalat Jum’at.

Perjalanan batin yang saya peroleh ini saya ceritakan juga pada anak-anak di rumah serta siswa-siswi si sekolah. Tidak lain agar mereka dapat menjalankan hidup ini penuh rasa syukur serta semangat yang kuat untuk meraih masa depan yang masih panjang. SEMOGA.

Tulisan ini dipublikasikan di Karya Guru dan tag . Tandai permalink.