sman 110

SMA Negeri 110

EnglishBahasa Indonesia日本語

Kebahagian mutlak, Cerpen Karya Sheila Alya

Beranda » Tulisan dan Karya Siswa

Kebahagiaan Mutlak
Sheila Alya

sheila alya kelas XII bahasa 2022-2023

Tiap manusia mempunyai pengertian bahagia yang berbeda-beda. Ada yang bisa mencapai puncak bahagianya hanya karena mendapat uang sepuluh ribu di jalan, ada juga yang bisa mencapai puncaknya hanya karena bisa selamat sampai ke rumah setelah seharian bekerja. Ada hal kecil sampai besar yang bisa dengan mudah membuat seorang insan bahagia, menurut satu orang hal itu sudah cukup, menurut yang lainnya belum tentu.

Jadi, kebahagiaan itu artinya banyak sekali, tidak bisa dipukul sama rata, Rogue paham sepenuhnya tentang itu.

Tetapi, sejak kecil, Rogue selalu beranggapan bahwa bahagia itu sederhana. Dulu, Rogue bisa langsung mencapai titik mutlak kebahagiaan dia jika ia dibawakan martabak manis oleh ayahnya sehabis beliau pulang bekerja. Dulu, Rogue bisa langsung bahagia sepanjang hari jika seluruh anggota keluarganya berkumpul selama seharian penuh di rumah, menghabiskan waktu bersama.

Jadi, untuk mencapai titik mutlak kebahagiaannya itu sederhana, bagi Rogue. Sesederhana ketika melihat pesan yang diberikan oleh Shaquille, kekasihnya, yang sedang berada di belahan benua lain bahwa ia akan segera melakukan panggilan video terhadapnya.

Wajah Shaquille terlihat dengan jelas di layar ponsel miliknya ketika Rogue mengangkat teleponnya. “How was today, sayang?”

Rogue bahkan tak sempat sembunyikan semburat merah yang terlukis indah di pipinya ketika ia mendengar Shaquille bertanya mengenai harinya, ia langsung berusaha menyibukan diri sendiri, setidaknya di hadapan Shaquille.

Cowok lo cuman nanya tapi kenapa lo kepanasan!!! Batinnya berteriak. Shaquille di seberang sana tertawa melihat pipi Rogue memerah.

Senyuman Shaquille terpatri di wajahnya semakin lebar tatkala melihat Rogue semakin berusaha menyibukkan diri. Jika sudah seperti ini, rasanya Shaquille ingin pulang saja dan meninggalkan kerjaannya.

You are cute.” ucapnya sambil tersenyum. Senyumnya yang terlalu lebar menyebabkan matanya terpejam, eye smile, kalau kata Rogue.

Rogue tersenyum. “Padahal yang lucu selama ini kamu.” Balasnya menggoda kembali. Shaquille tertawa terbahak-bahak di seberang sana ketika mendengar hal yang baru saja disebutkan oleh Rogue.

Shaquille mendekatkan wajahnya ke layar ponselnya, ia kemudian menatap netra hitam Rogue yang berbinar seperti manik-manik yang gemar dibeli oleh Rogue setiap saat mereka pergi keluar bersama.

I still remember the first day we met.” Shaquille memosisikan tangannya di bawah dagunya, menopangnya sendiri.

I wish I could be there with you right now.”

Rogue merasakan telinganya menjadi merah padam ketika ia mendengar ucapan yang keluar dari bibir Shaquille tiba-tiba tanpa peringatan pada malam itu. “Kenapa tiba-tiba bahas masa lalu deh?” Tanya Rogue sambil mengikuti hal yang sama yang dilakukan oleh Shaquille.

Shaquille dan Rogue sudah pernah sepakat bahwa mereka akan pura-pura tidak pernah mengingat masa lalu, ketika mereka masih belum menjadi sepasang kekasih. Kalau disebut dengan istilah zaman sekarang, namanya PDKT.

Yeah, it just suddenly came across my mind. I still remember how beautiful you are when I see you smile back at me. Padahal kita waktu itu sama-sama lagi ospek, tapi aku keliatan kucel banget, kamu ngga sama sekali. Cantik banget malah.” Shaquille mengusap rambutnya perlahan.

“Those days are precious, our PDKT days are very precious.” Nadanya ditekankan di kalimat terakhir, memastikan bahwa ia dapat memberi tahu Rogue bahwa ia memang merindukan masa-masa itu.

Perempuan berumur dua puluh satu tahun itu tertawa mendengarnya. “Apaan deh? Padahal kamu cakep banget pas ospek kapan itu, mangkanya aku mau bales senyum kamu.”

“Masa iya?”

“Iya, beneran lho. Kamu ganteng. Terus kelihatan bersih.”

Sontak raut wajah Shaquille berubah kala ia mendengar pernyataan Rogue tersebut. “Berarti kalau aku jelek, kamu gak mau bales?” Pertanyaannya dilontarkan. Tangan yang semula ia tumpukan di dagunya, berpindah tempat ke bibirnya. Shaquille mulai menggigit-gigit kecil kuku-kuku jarinya.

Rogue yang melihat itu menyunggingkan bibirnya kecil. Di benaknya terlintas pikiran jahil untuk mengerjai kekasihnya. “Iya lah. Sorry ya, aku nih perempuan yang melihat muka duluan daripada sifat.” Rogue menyibakkan rambutnya pelan ketika menjawab pertanyaan Shaquille.

“Serius kah sayang?” Tanya sang adam, walaupun hanya melewati layar dan virtual saja, Rogue sudah bisa tahu bahwa netra cokelat Shaquille sudah hampir dipenuhi oleh air mata.

Mendengar itu, Rogue langsung tidak bisa menahan tawanya. “HAHAHAHAHA YA KALI ngga dong. Aku sayang sama kamu dari awal…” Rogue menjawab pertanyaannya. Dalam hati, ia berharap banyak bahwa jawaban yang ia berikan dapat menenangkan yang di seberang sana.

Lalu mereka berdua diam.

Mereka berdua berdiam, sibuk menatap wajah satu sama lain melewati layar ponsel masing-masing, ditemani oleh alunan musik yang mengalun lembut yang diputar oleh Shaquille sejak awal mereka melakukan panggilan video. Alunan musik itu memasuki gendang telinga mereka, semakin membuat mereka fokus untuk jatuh lebih dalam ke dalam indra penglihat satu sama lain.

“Aku lagi bikin sweater buat kamu, Shaq.”

Setelah hampir lima menit mereka berdiam, sibuk meneliti fitur wajah satu sama lain; yang di mana sesungguhnya kedua insan tersebut sudah hafal masing-masing, Rogue akhirnya memutuskan tali keheningan tersebut.

“Maksudnya?”

“Iya, aku lagi bikin sweater buat kamu.”

“Bikin?”

Begini, bukan maksud Shaquille meragukan kekasihnya. Bukan kok, lagi pula untuk apa meragukannya? Shaquille percaya sepenuhnya bahwa jika Rogue ingin sesuatu, ia pasti bisa melakukannya. Namun, pasalnya, si cantik pujaan hati itu tidak pernah menjejakkan kakinya di dapur. Apalagi semenjak mereka berdua tinggal berpisah, Shaquille di Eropa dan Rogue di Jakarta. Rogue semakin tidak pernah menjejakkan kakinya di dapur kecil yang berada di apartemen milik mereka berdua.

“Eh kamu ngeraguin aku?”

“Lah nggak gitu lho maksudnya, sayang..”

Lalu, tiba-tiba Rogue mengangkat sweater rajut biru yang memiliki gambar huruf R di tengahnya.

“Ini, bagus nggak?” Ujarnya.

Shaquille tertawa. Kekasihnya ini sangat penuh kejutan, bahkan ketika mereka berada di benua yang berbeda. Kemudian, Shaquille mengangguk pelan. Menyetujui apa yang diungkapkan oleh perempuannya beberapa saat lalu. “Iya, bagus, sayang.”

Thank you for that, ganteng. Tapi, aku minta maaf ya kalau gak pas. I made this pakai contoh ukuran baju kamu yang ditinggal di sini.. nanti kalau ngga muat aku bongk-.”

“Eh apaan sih ngga, pasti muat. Aku gak nambah berat badan di sini, karena kangen kamu. Kalau kamu di sini mungkin malah nambah.” Shaquille memotong ucapan Rogue.

Shaquille tahu betul bahwa kekasihnya itu selalu terlalu banyak berpikir. Sering kali karena kebiasaan buruknya itu mengakibatkan hal-hal yang mereka tidak sukai terjadi.

I’m pretty sure it would fit on me. Tunggu aku di rumah, ya?”

Okay, I will wait for you here.”

Ada sangat banyak bentuk bahagia mutlak seorang insan yang dapat diciptakan oleh hal kecil atau hal besar. Baik Rogue, baik Shaquille, mereka berdua paham sepenuhnya tentang pengertian itu.

Sebelum bertemu Rogue, Shaquille selalu beranggapan bahwa kebahagiaan itu tidak bisa diraih dengan mudah. Ia harus melewati berbagai macam cobaan yang melibatkan keringat dan darah di dalamnya, setelah ia berhasil melewati hal itu, ia baru akan dapat kebahagiaannya. Shaquille sejak kecil selalu percaya itu.

Namun, setelah ia bertemu dengan Rogue, Shaquille diajarkan bahwa bahagia itu akan mudah didapatkan jika seseorang mulai bersyukur dengan apa yang ada di sekitarnya.

Semenjak bertemu Rogue, Shaquille percaya bahwa mencapai titik mutlak bahagianya itu sederhana. Sesederhana mengetahui fakta bahwa Rogue tetap di sana, di rumah mereka, menunggunya untuk pulang kembali ke pelukannya.

Dan mereka berdua sudah sampai di titik mutlak kebahagiaan mereka.

Diterbitkan pada 18/04/2022   |   Kategori tulisan Tulisan dan Karya Siswa